Liburan weekend, aku dan keluargaku berekreasi
ke sebuah pantai yang entah apa namanya dan entah di mana tempatnya. Aku hanya
duduk santai di belakang supir menunggu sampai di tempat tujuan.
Tidak lama, sampailah kami di sebuah
pantai yang ramainya naudzubillahi minzalik, amat sangat ramai sekali. Tak salah jika ramai, karena pantai
itu di penuhi dengan banyak sekali pedagang, bahkan, ada sebuah pasar
tradisional di pantai itu. Aneh? Memang! aku pun merasa begitu.
Ibuku yang gemar belanja langsung
menyerbu pasar bersama adiknya. Sedangkan ayah dan kakakku diam saja menikmati
pemandangan yang sebenarnya tak enak di lihat, karena terlalu banyak penjual
makanan dan tentunya terlalu banyak pula sampah berserakan sana-sini. Bagaimana
denganku?
Saat itu adalah waktu dzuhur. Aku
sibuk kesana kemari mencari tempat wudhu untuk segera melaksanakan ibadah.
Kutanya kepada kakakku yang sedang diam, “Kak, tempat wudhu di mana sih?”
“Itu tuh!” kakakku menunjuk ke
sebuah kran air di depan sebuah warung ikan hias. Lalu ia melanjutkan, “tapi,
katanya kalau wudhu di sana
bayar.”
“Hah bayar? Cuma numpang wudhu
bayar? Ck,ck…”
Aku merogoh saku celanaku. Tidak ada
uang. Akhirnya aku berkeliling mencari kamar mandi. Dan kutemukanlah sebuah
kamar mandi umum yang di dalamnya terdapat banyak sekali kran air berjejer.
Sepi. Bahkan tak ada satu pun orang.
Lalu aku masuk dan segera mengambil air wudhu. Tiba-tiba….. datanglah sesosok
malaikat kiriman Tuhan yang tampan nan rupawan dengan senyum manisnya yang semanis
madu di campur gula batu di tambah gula aren, tak lupa gula putih 1kg, telur 5
butir, tepung 1 kg, dan jadilah kue bolu.
Hei, itu VIDI ALDIANO!!!
Aku tentunya amat sangat tak menyangka bisa bertemu untuk
yang kali pertama dengan Vidi Aldiano, apalagi di tempat seperti ini. :: kamar
mandi ::
Jantungku berdebar kencang seperti
hentakan kaki para kompeni Jepang. Dag dig dug dag dig dug.
“KAK VIDI!!!! KAK VIDI KAN ???” pekikku histeris.
“Iyaa.. hehe” jawabnya santai.
“Waah..” mataku berkaca kaca, “Mau
ngapain kak?” sambungku.
“Mau wudhu, nih.”
“EH, TUNGGU! TUNGGU, KAK!! JANGAN
WUDHU DULU!!!”
Aku langsung meninggalkan wudhuku,
dan berlari mendekati… Vidi Aldiano. Entah apa yang kulakukan, tiba-tiba
aku di peluk dan cipika-cipiki dengannya.
“Ngapain di Lampung, kak?
Jalan-jalan kah?” Tanyaku.
“Hehe, iya nih, refreshing aja.
Soalnya tadi abis show di Medan.”
“Oh,
haha…” (dalam hati: hah? Medan-Lampung?? Kok,
agak ga nyambung ya?)
“Sering-sering
main ke Lampung, donk, kak!”
“Iya,
Insyaallah, deh. Ya udah ya, Mawar, mau wudhu, nih!”
“Oh,
iya, kak. Sama nih, aku juga.”
Saat
di luar kamar mandi. Aku dan kak Vidi berpisah arah. Sebelumnya, kak Vidi
bilang, “ya udah, good luck ya!”
“Iya,
makasih, kak.”
Sesudah kejadian
itu, aku menjadi tak sabar ingin cepat-cepat hari berganti. Pokoknya
besok saya mau cerita sama atuk! Sama temen-temen semua! Saya harus cerita
tentang ini!
Esok hari pun tiba, dan saya terbangun. Ternyata itu semua cuma mimpi.
Ditulis pada 2011.

0 comments:
Post a Comment