Monday, September 10, 2018

Vidi Aldiano and Me




Liburan weekend, aku dan keluargaku berekreasi ke sebuah pantai yang entah apa namanya dan entah di mana tempatnya. Aku hanya duduk santai di belakang supir menunggu sampai di tempat tujuan.
            
Tidak lama, sampailah kami di sebuah pantai yang ramainya naudzubillahi minzalik, amat sangat ramai sekali. Tak salah jika ramai, karena pantai itu di penuhi dengan banyak sekali pedagang, bahkan, ada sebuah pasar tradisional di pantai itu. Aneh? Memang! aku pun merasa begitu.
           
Ibuku yang gemar belanja langsung menyerbu pasar bersama adiknya. Sedangkan ayah dan kakakku diam saja menikmati pemandangan yang sebenarnya tak enak di lihat, karena terlalu banyak penjual makanan dan tentunya terlalu banyak pula sampah berserakan sana-sini. Bagaimana denganku?
            
Saat itu adalah waktu dzuhur. Aku sibuk kesana kemari mencari tempat wudhu untuk segera melaksanakan ibadah. Kutanya kepada kakakku yang sedang diam, “Kak, tempat wudhu di mana sih?”
            
       “Itu tuh!” kakakku menunjuk ke sebuah kran air di depan sebuah warung ikan hias. Lalu ia melanjutkan, “tapi, katanya kalau wudhu di sana bayar.”
           
           “Hah bayar? Cuma numpang wudhu bayar? Ck,ck…”
            
Aku merogoh saku celanaku. Tidak ada uang. Akhirnya aku berkeliling mencari kamar mandi. Dan kutemukanlah sebuah kamar mandi umum yang di dalamnya terdapat banyak sekali kran air berjejer.
            
Sepi. Bahkan tak ada satu pun orang. Lalu aku masuk dan segera mengambil air wudhu. Tiba-tiba….. datanglah sesosok malaikat kiriman Tuhan yang tampan nan rupawan dengan senyum manisnya yang semanis madu di campur gula batu di tambah gula aren, tak lupa gula putih 1kg, telur 5 butir, tepung 1 kg, dan jadilah kue bolu. 

            Hei, itu VIDI ALDIANO!!!

Aku tentunya amat sangat tak menyangka bisa bertemu untuk yang kali pertama dengan Vidi Aldiano, apalagi di tempat seperti ini. :: kamar mandi ::
            
Jantungku berdebar kencang seperti hentakan kaki para kompeni Jepang. Dag dig dug dag dig dug.
           
            “KAK VIDI!!!! KAK VIDI KAN???” pekikku histeris.
            “Iyaa.. hehe” jawabnya santai.
            “Waah..” mataku berkaca kaca, “Mau ngapain kak?” sambungku.
            “Mau wudhu, nih.”
            “EH, TUNGGU! TUNGGU, KAK!! JANGAN WUDHU DULU!!!”
            Aku langsung meninggalkan wudhuku, dan berlari mendekati… Vidi Aldiano. Entah apa yang kulakukan, tiba-tiba aku di peluk dan cipika-cipiki dengannya.
            “Ngapain di Lampung, kak? Jalan-jalan kah?” Tanyaku.
            “Hehe, iya nih, refreshing aja. Soalnya tadi abis show di Medan.”
            “Oh, haha…” (dalam hati: hah? Medan-Lampung?? Kok, agak ga nyambung ya?)
            “Sering-sering main ke Lampung, donk, kak!”
            “Iya, Insyaallah, deh. Ya udah ya, Mawar, mau wudhu, nih!”
            “Oh, iya, kak. Sama nih, aku juga.”

            Saat di luar kamar mandi. Aku dan kak Vidi berpisah arah. Sebelumnya, kak Vidi bilang, “ya udah, good luck ya!”
            “Iya, makasih, kak.”
            
Sesudah kejadian itu, aku menjadi tak sabar ingin cepat-cepat hari berganti. Pokoknya besok saya mau cerita sama atuk! Sama temen-temen semua! Saya harus cerita tentang ini! 
           
Esok hari pun tiba, dan saya terbangun. Ternyata itu semua cuma mimpi.



Ditulis pada 2011.


0 comments:

Post a Comment