Sunday, December 16, 2018

Tuesday, October 23, 2018

#DailyStory 21 Oktober 2018 dan Tamparan dari Gatsu sampai Cikawao

Setelah mikir berjam-jam sambil nyuci baju, akhirnya saya mengerti mau saya apa; pergi ke McD lalu makan rice bulgogi. 

Ga mau rugi sama pajak yang udah dibayar, saya manfaatin fasilitas yang ada. Ngecas hp, ngecas laptop, Wi-Fi-an sampe sore, buang air kecil di toilet, cuci tangan, ngeringin tangan, duduk selonjoran, liat-liat orang, nyimak obrolan orang, sampai pada satu percakapan hangat terjadi di sebelah saya.

Dari awal masuk pintu McD, saya udah merhatiin dua orang ini. Bukan, bukan merhatiin sinis, kok. Ga tau kenapa, si Mbak berbaju biru dengan wajah ditutup masker yang jalan bareng sama bapak-bapak tua berjaket merah itu menarik perhatian saya. Dan kebetulan lagi, mereka mengambil tempat duduk tepat di sebelah saya. Tepat banget. Padahal saya udah milih tempat duduk paling mojok supaya dijauhin orang-orang, dan padahal juga tempat duduk yang lain masih banyak yang kosong, tapi mereka memilih duduk di samping meja saya. Tau ga kenapa? Ternyata, Allah yang menghendaki.

Saya melanjutkan keautisan sendiri di depan laptop sambil sesekali ngelirik bapak tua yang ada di sebelah saya. Si bapak ini lagi nunggu anaknya pesan makan, dan beliau duduk tenang sambil ngelirik ke langit-langit ruangan, dinding-dinding bergambar, dan orang-orang sekitar. Sepertinya beliau baru pertama kali masuk McD. Seketika, melihat raut wajah si bapak, saya jadi kebayang wajah bapak saya sendiri.

Ngga lama, si anak dateng dengan dua paket nasi ayam. Sambil melahap makanan masing-masing, sepasang bapak-anak ini ngobrolin hal-hal kecil yang ga sengaja kedengeran sampai telinga saya.

"Ini enak, lho." -Bapak.
"Pak, ini potonya bagus, gak?" -Anak, sambil nunjukin foto di hp.
"Mamakmu sebenernya pengen banget ikut, dari Gambir deket, to?" -Bapak.
"Kontrakan yang di Magelang itu, to?" -Anak.

Dari logat dan beberapa percakapan kecilnya, saya sedikit tahu kalau mereka dari daerah Jawa Tengah, entah Magelang atau mana. Anaknya lagi kerja di Bandung, Bapaknya lagi menjenguk. Beberapa hari ke depan mereka mau pergi ke Jakarta. Dan Ibu mereka sedang di rumah.

Sepasang bapak-anak ini adalah potret keluarga yang sederhana. Sederhana sekali. Tapi tetap bisa hangat dan bahagia.

Jujur, saya mau nangis menyaksikan drama keluarga kecil ini. Meskipun bukan drama sih, alias realita, tapi too sweet buat saya tonton sendiri. Mungkin kedengeran agak lebay. Tapi jujur lagi, saya adalah anak yang kurang hangat sama keluarga sendiri. 

Nggak lama setelah mereka menghabiskan makanan sambil ngobrol-ngobrol kecil, si bapak bilang dengan logat jawanya yang kental banget, "Udah yok, bapak kedinginan, AC-nya dingin banget." sambil memeluk dirinya sendiri.

Lalu mereka pulang....................

Simpel, ya? Tapi buat saya nggak. Ada rasa haru, iri, senang, sekaligus sedih. 
Saya akhirnya tau kenapa tadi mereka memilih tempat duduk di sebelah saya dibanding tempat lain. Ternyata Allah yang nyuruh. 
Biar saya sadar diri. Biar saya inget, cita-cita yang bikin saya kepikiran siang-malem itu ga ada apa-apanya dibanding bahagianya bisa berkomunikasi hangat sama keluarga. 

It's hurt me sooooo deep.

gambar diambil dari pinterest

Pulangnya, setelah menimbang-nimbang ongkos grab vs angkot, akhirnya saya pilih jalan termurah yaitu naik angkot meski harus ganti 2 kali. Pertama, saya naik angkot merah tujuan Binong. Supirnya lagi-lagi bapak tua, lebih tua dari bapak saya. Waktu saya lagi ngitung uang di dompet, si bapak supir ini minta tolong ke saya untuk benerin simcard hpnya, karena katanya beliau mau nelfon pake SIM2 tapi kok ga bisa. Setelah saya otak-atik, akhirnya bisa. Dan saya diminta untuk nelfon nomor istrinya.

Istri: "halo, pak? blablabla"
Saya: "halo, iya bu..." *ngasih hp ke bapak sopir yg lagi nyetir "pak, punten ini udah diangkat."

Selesai telfonan yang ga tau ngomongin apa, karena pakai bahasa sunda, si bapak berterima kasih banyak-banyak sama saya.

Bapak: "hatur nuhun, neng. ya Allah bapak teh ga nngerti itu tadi, udah tua gini, neng. hatur nuhun neng, hatur nuhun." sambil senyum sumringah banget dan si bapak juga bilang, kalau ga ada saya, dia ga bisa nelfon istrinya, dan beliau lagi-lagi ngucapin terima kasih yang banyak.

Saya jadi mau nangis. Hahaha cengeng, ya.

Tapi si Bapak nyebut "hatur nuhun" banyak kali dengan ekspresi bahagia itu bikin saya ngerasa berharga sekali. Bikin saya ngerasa, ya Allah, di saat saya ga bisa berterima kasih sama diri sendiri, ternyata masih ada orang-orang yang merasa perlu berterima kasih banyak sama saya. Sedih. Ternyata selama ini yang merendahkan saya, ya diri saya sendiri.

Ga lama, saya turun di perempatan jalan Cikawao. Begitu saya turun angkot dan mau bayar, si bapak teriak, "hatur nuhun, neng! hati-hati, ya!" dan langsung tancap gas ngebut. Lah, SAYA BELUM SEMPET BAYAR, PAK. Kenapa Bapak baik banget? Padahal saya cuma membantu ngebenerin settingan SIMcard doang. Kenapa Bapak berterima kasih banyak sekali? Seolah-olah saya udah jadi penolong untuk hidup Bapak ini. 

Jadi malu. Kenapa orang-orang berterima kasih sama saya, di saat saya ga bisa berterima kasih sama diri sendiri?

Sambil nunggu angkot kedua lewat, saya husnudzon. Allah baik banget sih, masih mempertemukan saya sama orang-orang yang baik banget, masih mau ngasih saya pelajaran-pelajaran dan bikin saya sadar, padahal saya mah sering lalai dan jahat ke Allah:(



Tuesday, September 11, 2018

Menghabiskan Hari Bersamamu



Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan secangkir minuman hangat. Tidak harus kopi, yang penting sesuai selera. Bisa jadi kamu lebih suka teh panas, bisa jadi juga aku lebih berselera dengan madu hangat.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan duduk berhadapan di suatu tempat. Tidak harus kafe dengan live musik kekinian, yang penting kita nyaman. Bisa jadi kamu lebih suka alam, bisa jadi juga aku lebih tertarik dengan warung bakso pinggir jalan.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan bercerita sepanjang hari. Sampai kamu tertawa, sampai kamu menangis.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan pertanyaan seputar bagaimana rencana kita untuk lima tahun ke depan, bukan seputar bagaimana pendapat kita tentang kinerja para politikus dari partai sebelah.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan mengunjungi taman bunga, galeri seni, pertunjukan budaya, atau kebun binatang. Boleh juga menjelajah alam, atau mengamati benda-benda langit.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan mengamati lalu memahami.

Aku

      ingin

             menghabiskan

                            hari

                                   bersamamu

                                              untuk saling menemukan diri kita yang sebenarnya.



Bandung, 27 September 2016
This entry was posted in

Yang Tertinggal

source: pinterest


tiap pagi aku bangun paling dulu
mengikat kencang simpul tali sepatu
melipat rapi kerah kemeja biru
menyisir klimis rambut tipisku

kujatuhkan langkah terbaik di kampus itu
belajar lalu berorasi dari waktu ke waktu
sampai serak suaraku, sampai habis peluhku
pagi dan siang makan jadi satu
hari libur dan tanggal merah hanya isu
sibukku menjadi candu

larut tiba waktu istirahatku
merebah
melepas lelah
di ruang petak tiga kali empat
di ratusan kilometer jauhnya dari rumah

hari ini
kesibukan mengiringiku
mungkin saja besok juga begitu
“baguslah,” kataku
agar tak sia-sia hidupku

tapi tunggu dulu,
rasanya,
ada yang tertinggal

oh, iya
aku hampir lupa sesuatu

aku lupa
belum mengucap rindu; pada Ibu
yang barangkali sudah menunggu.


-Bandung, di suatu waktu sibukku.
This entry was posted in

Monday, September 10, 2018

Vidi Aldiano and Me




Liburan weekend, aku dan keluargaku berekreasi ke sebuah pantai yang entah apa namanya dan entah di mana tempatnya. Aku hanya duduk santai di belakang supir menunggu sampai di tempat tujuan.
            
Tidak lama, sampailah kami di sebuah pantai yang ramainya naudzubillahi minzalik, amat sangat ramai sekali. Tak salah jika ramai, karena pantai itu di penuhi dengan banyak sekali pedagang, bahkan, ada sebuah pasar tradisional di pantai itu. Aneh? Memang! aku pun merasa begitu.
           
Ibuku yang gemar belanja langsung menyerbu pasar bersama adiknya. Sedangkan ayah dan kakakku diam saja menikmati pemandangan yang sebenarnya tak enak di lihat, karena terlalu banyak penjual makanan dan tentunya terlalu banyak pula sampah berserakan sana-sini. Bagaimana denganku?
            
Saat itu adalah waktu dzuhur. Aku sibuk kesana kemari mencari tempat wudhu untuk segera melaksanakan ibadah. Kutanya kepada kakakku yang sedang diam, “Kak, tempat wudhu di mana sih?”
            
       “Itu tuh!” kakakku menunjuk ke sebuah kran air di depan sebuah warung ikan hias. Lalu ia melanjutkan, “tapi, katanya kalau wudhu di sana bayar.”
           
           “Hah bayar? Cuma numpang wudhu bayar? Ck,ck…”
            
Aku merogoh saku celanaku. Tidak ada uang. Akhirnya aku berkeliling mencari kamar mandi. Dan kutemukanlah sebuah kamar mandi umum yang di dalamnya terdapat banyak sekali kran air berjejer.
            
Sepi. Bahkan tak ada satu pun orang. Lalu aku masuk dan segera mengambil air wudhu. Tiba-tiba….. datanglah sesosok malaikat kiriman Tuhan yang tampan nan rupawan dengan senyum manisnya yang semanis madu di campur gula batu di tambah gula aren, tak lupa gula putih 1kg, telur 5 butir, tepung 1 kg, dan jadilah kue bolu. 

            Hei, itu VIDI ALDIANO!!!

Aku tentunya amat sangat tak menyangka bisa bertemu untuk yang kali pertama dengan Vidi Aldiano, apalagi di tempat seperti ini. :: kamar mandi ::
            
Jantungku berdebar kencang seperti hentakan kaki para kompeni Jepang. Dag dig dug dag dig dug.
           
            “KAK VIDI!!!! KAK VIDI KAN???” pekikku histeris.
            “Iyaa.. hehe” jawabnya santai.
            “Waah..” mataku berkaca kaca, “Mau ngapain kak?” sambungku.
            “Mau wudhu, nih.”
            “EH, TUNGGU! TUNGGU, KAK!! JANGAN WUDHU DULU!!!”
            Aku langsung meninggalkan wudhuku, dan berlari mendekati… Vidi Aldiano. Entah apa yang kulakukan, tiba-tiba aku di peluk dan cipika-cipiki dengannya.
            “Ngapain di Lampung, kak? Jalan-jalan kah?” Tanyaku.
            “Hehe, iya nih, refreshing aja. Soalnya tadi abis show di Medan.”
            “Oh, haha…” (dalam hati: hah? Medan-Lampung?? Kok, agak ga nyambung ya?)
            “Sering-sering main ke Lampung, donk, kak!”
            “Iya, Insyaallah, deh. Ya udah ya, Mawar, mau wudhu, nih!”
            “Oh, iya, kak. Sama nih, aku juga.”

            Saat di luar kamar mandi. Aku dan kak Vidi berpisah arah. Sebelumnya, kak Vidi bilang, “ya udah, good luck ya!”
            “Iya, makasih, kak.”
            
Sesudah kejadian itu, aku menjadi tak sabar ingin cepat-cepat hari berganti. Pokoknya besok saya mau cerita sama atuk! Sama temen-temen semua! Saya harus cerita tentang ini! 
           
Esok hari pun tiba, dan saya terbangun. Ternyata itu semua cuma mimpi.



Ditulis pada 2011.


Piket



Tepat pukul 04.45 pagi, alarm ponselku berdering. Memang aku sengaja memasang alarm pagi-pagi di hari libur seperti ini karena hari ini aku akan pergi ke sekolah untuk sekadar piket kelas.
            
Ohh, tiada yang hebat dan mempesonaa.. ketika kau lewat di hadapankuu.. biasa sajaa..aa..
            
Vidi Aldiano - Nuansa Bening, itulah lagu yang kupilih untuk memancing jasadku agar bisa bangun dari tidur yang selalu saja kelewat nyenyak ini. 
           
Aku bangun. Kulihat jam di ponselku, “Ah, masih jam lima  lalu aku kembali memejamkan mata dan memeluk erat guling yang terbungkus kain kasar, jadi seperti pocong. Di dalam tidurku, aku bermimpi bahwa aku sudah bangun. Tanpa mandi, cepat-cepat aku memakai seragam pramuka. Kemudian berlari kalang-kabut kesana-kemari seperti orang kebakaran jenggot keramatnya. Di dekat rak sepatu, aku sibuk mencari sepatuku sambil komat-kamit sendiri. Sepatuku hilang! Oh, Neptunus, di mana terakhir kali aku menaruh sepatu?? Aku tak berhenti mencari, mencari, dan terus mencari hingga sela-sela kecil lemari kubongkari semua. Orang-orang seluruh penghuni isi rumahku pun ikut berpartisipasi atas kesibukan ini. Kulirik jam dinding yang tergantung di atas rak sepatu itu. Tepat pukul 08.00.
            Aih, kan, udah jam delapan! Udah terlambat ini! Gak jadi sekolah, lah!” kata-kataku menghentak dengan nada marah.
            
Aku kesal dengan orang-orang rumah. Tapi malah aku yang dimarahi habis-habisan oleh ibuku karena pagi-pagi sudah menyusahkan banyak orang di rumah. Lalu aku masuk ke dalam kamar dan tidak jadi berangkat ke sekolah. Aku berbaring kesal di atas kasur. Melepas kaos kaki dan melemparnya ke meja belajar. Kubenamkan wajahku di bawah selimut, kupejamkan mata erat-erat untuk menahan air mata kekesalanku. Beberapa detik setelah itu, aku bangun! Aku benar-benar bangun dari tidur dan mimpi pendekku tadi. Aku merasa aneh. Nafasku terengah-engah, emosiku masih menukik, mimpi tadi rasanya seperti nyata kualami. Cepat-cepat aku menuju kamar mandi. Ketika aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, aku keluar lagi sekedar untuk menengok rak sepatu.
Alhamdulillah, sepatunya masih ada,” gumamku sembari tersenyum kecil.

Selesai mandi, aku terburu-buru berangkat sekolah hingga kalang kabut tak karuan, persis seperti di dalam mimpi, tapi bedanya, sepatuku tak hilang, aku terburu hanya karena mengejar waktu.
          
Ibuku yang sedang heran melihatku terburu-buru bertanya, “Loh? Kok sekolah? Ini kan libur?”
Aku menjawab sambil mengenakan kaos kaki, “Aturan baru, walau libur tetep harus piket kelas.”
Ibuku bertanya lagi, “Oo... lah ga sarapan dulu?”
Kujawab sambil mengenakan sepatu, “Ga usah, cuma bentar kok!”
Tiba-tiba adikku berteriak ingin ikut, “Ikuuut! Aban mau ikuuuttt!!!” mulutnya sengaja di maju-majukan menyamakan pipinya yang lebih menonjol.
“Ikuuut!!” ia terus menjerit tetapi malah tetap diam di tempat.
“Cepet pakai sendalnya! Cepet!!!” bentakku galak.

 Sampai di sekolah, aku masuk lewat gerbang depan. Kutelusuri lorong tempat parkir guru.
            Sreekk, sreekk, sreekkk….
Hanya terdengar suara langkahan kakiku saja. Kutengok sekeliling halaman sekolah. Sunyi senyap. Tak ada aktivitas apa pun.
            Sssssshhhhh……..
Suara hempasan dedaunan yang saling bergesekan menyambutku yang tercengang sendirian di ujung lapangan basket sambil melongo. Kuambil handphone di saku rok pramukaku. Kutulis pesan pendek untuk temanku, Na, kamu berangkat ga? Saya udah di sekolah, tp kok ga ada satu pun manusia sih? Kayak kuburan ...
            Begitu isi pesan singkatku. Dan segera kukirim ke kawanku: Nana Maulana.
           
Seketika kulihat di layar ponselku. Pengiriman pesan telah gagal. Aih, sial! Ternyata pulsaku habis! Aku berjalan kembali keluar sekolah. Ada seorang anak kelas tujuh, entah siapa namanya, ingin sekali rasanya aku bertanya, tapi anak itu terlanjur buru-buru pulang seperti habis melihat setan perempuan yang gosip-gosipnya setan itu bernama Yuni, dia ada di sekolahku. Ah, tentang itu aku tak percaya. Hanya gosip.

Apa boleh buat lagi, akhirnya aku kembali pulang ke rumah dengan rasa kesal. Di jalan, aku terus menggerutu, “ Ih, pada ke mana sih anak-anaknya?! Rese banget! Bodo amat lah kalau nanti dapet poin gara-gara ga piket!”

Di rumah.

Aku menunggu pukul sembilan. Lebih tepatnya lagi menunggu konter dekat rumahku buka. Lalu aku membeli pulsa dan mengirim lagi pesan singkat ke Nana.
            Na, kamu berangkat ga, tah? Tadi aku udah ke sekolah, tp ga ada satu pun manusia. Hening. Kayak kuburan…
            Terkirim. Dan segera di balas oleh kawanku.
            Berangkat. Kamu berangkat jam berapa?
            Kubalas:
            Jam 7 lewat dikit banget. Emang harusnya berangkat jam berapa?
            Terkirim, dan ia segera membalas lagi.
            Jam 9 baru mulai rame.
            Kubalas lagi:
            Aih, kamu ga bilang loh kalau berangkat jam segitu! Terus, tadi di absen kah sama Pak Kuat?
            Nana membalas lagi.
            Iya. Yang ga dateng dapet poin.
           
Tak kubalas lagi. Ah, biarlah. Tak terlalu penting piket di hari libur itu.


Ditulis pada 4 Juni 2011.

Surat Untuk Pak SBY



Pak SBY yang sangat terhormat,

Saya sangat mendukung bapak saat pemilihan presiden 2009-2014 kemarin, walau saya gak ikut nyontreng (belum cukup umur :p)
            
Saya senang bisa menulis surat ini untuk Bapak, saya juga ingin bertanya,

  1. Seberapa besar Bapak mendukung potensi dan karya anak-anak Indonesia? Mengapa?
  2. Saya sangat suka film-film Indonesia terutama yang bertema perjuangan seorang anak meraih mimpinya, kalau Bapak, film apa sih yang paling Bapak suka?
  3. Apakah dari kecil Bapak sudah bercita-cita menjadi seorang presiden?
  4. Apa harapan Bapak dari generasi-generasi penerus bangsa sekarang ini khususnya kalangan remaja?
Itu saja pertanyaan saya, terima kasih.
We love Indonesia full. 
 Lanjutkan!!






Ditulis pada 3 Desember 2009.

nb: kalau ga salah ini untuk ikut sayembara dari majalah Aneka Yess!
lucu ya aq wqwq

Marahan



13 Januari 2010



Siang itu di sekolah lagi pelajaran praktek fisika. Praktek kali ini aku cuma sama si ‘At’. Padahal kata Bu Asih satu kelompok suruh berempat atau lima. Waktu lagi ngambil alat-alat untuk praktek, aku sama temenku (At) cuma kebagian bahannya dikit, sedangkan mereka (tiga orang sahabatku yg lain) dapet banyaaak banget.

Kalau lagi praktek kan kita pasti pada sibuk sendiri tuh, sana-sini lah, nyari ini nyari itu lah, yaaah, pada sok sibuk semua lah pokoknya. Dan saat itu mereka bertiga gak ngajak aku sama At. Entah kenapa, aku sama At juga lagi agak gimanaaa gitu sama mereka. Entah juga kenapa mereka sekarang kayaknya agak berubah. Kayaknya sih semenjak mereka pada pacar-pacaran. Sedangkan aku sama At udah berprinsip kalau kita ga mau pacaran di masa SMP ini.

Aku gak nyalahin mereka bertiga sih. Nggak sama sekali.
Aku, At, dan mereka emang gak salah! Di antara kami emang gak ada yang salah.

Saat itu, aku melihat diriku dan kawanku (At) rasanya kasihan sekali. Mengapa kami cuma berdua? Mengapa kami tak bersama mereka? Mengapa? Why? Why? And why?

TAPI, bukan berarti kita gak bersama lagi, kita masih tetap yang dulu, hanyaaaa sedikit berbeda aja rasanya.


======================================================================

Tulisan di atas telah melalui proses editing demi mengubah kata-kata alay yang sempat hits pada masanya.


nb: 
At = Lintang, sedangkan 3 orang yang lain itu Erinda, Okta, Wulan.
Hahahaha ternyata dari SMP kami udah pinter drama gitu.


Sunday, September 9, 2018

Museum Geologi, dari ceritamu.


Lampung, Januari 2016.

Liburan tahun lalu, kau menceritakan padaku tentang Museum Geologi. Katamu, di dalamnya terdapat replika fosil Tyrannosaurus Rex. Aku tahu bahwa sebenarnya kau, jangankan masuk, melewatinya pun belum pernah. Tapi kau bercerita seolah-olah jiwamu pernah menyambanginya. Aku mengiyakan segala ceritamu.

Akhir dari liburan itu, kau ikut mengantarku sampai terminal pagi-pagi sekali. Kau sempat ngambek karena tidak diberikan waktu untuk cuci muka dan sikat gigi dulu. Aku merekam keluguanmu itu. Sambil menunggu mobil yang akan membawaku berangkat ke pulau seberang, kamu menceritakan padaku, lagi, tentang replika fosil Tyrannosaurus Rex yang ada di Museum Geologi. Entah dari mana kamu tahu hal itu, aku tak sempat menanyakan. Sampai waktu keberangkatanku tiba, kamu baru mengakhiri ceritamu, lalu membisikkanku, “Mbak, nanti Januari aku ulang tahun, jangan lupa kirim kado buku tentang dinosaurus, ya. Oke?”

Aku tertawa kecil, lalu mengiyakan dengan semangat.



Bandung, Desember 2017.

Liburan sekolahmu kali ini sepertinya sangat menyenangkan. Sebab, selain mengunjungiku yang tengah sibuk sekali menyusun tugas akhir, kita juga sama-sama pergi ke Museum Geologi, Bandung.




This entry was posted in

Friday, September 7, 2018

Observasi Anak-Anak Kelas (SMP)

Tulisan ini terakhir diperbaharui pada 26/07/2010.


Observasi anak-anak Sondies.



-Intan kalau ketawa pasti sambil mukul-mukul meja.
-Kata Wulan, “cinta itu murni, murni itu emas, emas itu kuning, kuning itu tai. Jadi, cinta itu tai.”  lalu temen-temen langsung pada ngakak semua :D
-Deni sering dibilangin temen-temen anak autis.
-Siska & Yanti kalau istirahat suka melancong sana-sini.
-Erinda suka banget manga.
-Intan kalau lagi jam kosong suka gambar-gambar di bukunya.
-Dial suka ngerjain orang dari dalem kelas, tiap ada anak lewat yang gak dia kenal, sama Dial dipanggil “Paijo!!”
-Deni katanya pengen jadi presiden 2028.
-Kaki kursinya Annisa patah, sudah banyak korban yg jatoh di kursi itu.
-Dina sering di panggil ‘adek’ karena dia paling kecil.
-Khoirun sering di panggil ‘Makkoi’ gak tau siapa yg memberi nama, mungkin karena dia ke-emak-emak-an.
-Masykur kalau piket (biasanya) baru berangkat kalau kelas udah bersih.
-Khoirun (makkoi) suka benerin antena tv kelas. 
-Lala duduknya di pojokan.
-Erinda pernah nyanyi lagu Laskar Pelangi di depan kelas pas pelajarannya Pak Marno.
-Okta kalau ngomong cepeeeet banget, gak ada koma gak ada spasi.
-Febri sering banget ngantuk kalau lagi belajar.
-Yuda narsis minta di panggil Dude. Kresnamal Yuda jadi Kresnamal Dude. Karena merasa dirinya mirip Dude Herlino.
-Sherly kalau ngomong pasti ada “Baby….” Dengan gaya lebay.
-Sherly pasukan armada sejati (pada masanya).
-Gandung benci banget Kangen Band. **Benar-benar cinta?
-Yanti, Siska, dan Putri ngefans sama Mr. Heri (guru bahasa Inggris).
-Waktu kelas 8, Gandung gak suka kalau Mr. Heri masuk, karena dia merasa  Mr. Heri saingannya (takut kalah ganteng mungkin…hehe).
-Nana suka ngikutin gaya bicaranya Pak Tarno (tukang sulap) "Bim salabim jadi apa prok prok prok.. Apa hayooo."
-Siska dkk suka curhat sama Mr. tusiman.
-Tika juga suka curhat sama Mr. tusiman.
-Lintang sering kebelet pipis di jalan.
-Wulan suka banget spongebob.
-Wulan orangnya apatis.
-Yuda kalau lagi nonton tv mulutnya gak bisa mingkem.
-Masykur rumahnya paling deket tapi berangkatnya paling terakhir, biasanya kalau film George udah abis baru dia dateng.
-Dial paling pelit dan perhitungan di kelas.
-Deni kalau pakai baju pramuka kancing yang paling atas gak di buka.
-Gandung & Siska duduknya sampingan, dan seumur-umur ga pernah akur, kayak Tom&Jerry.
-Dial suka nyanyi lagu yang di iklan adem sari.
-Eka tiada hari tanpa curcol sama Intan.
-Febri pernah ngelempar sapu sampe mecahin kaca jendela kelas.
-Waktu jadi ketua kelas, Erinda pernah marah banget sama Dial sampe ngelempar penghapus papan tulis ke Dial. *dial lagi, dial lagi*
-Eka pernah pas mau pulang ternyata bawa palunya Pak Handoyo di dalem tasnya.
-Anak-anak cowok pernah bolos kelas, ke warnet.
-Anak-anak cowok pernah ngomongin Tatik Yani. (?) *sejujurnya, saya ga tau apa masalahnya si TY ini
-Setiap pagi selalu nonton Curious George, dan kalau siang nonton Klik!

tontonan wajib tiap pagi sebelum bel masuk
tontonan wajib di jam isoma


Monday, August 27, 2018

I won’t get too close to people anymore


Beberapa waktu yang lalu saya pernah nonton video di channel youtubenya Agung Hapsah, dan saya inget banget doi bilang bahwa he didn’t want to be close to someone karena hidupnya sedari kecil sering banget berpindah-pindah, jadi setiap punya teman baru dan merasa sudah sangat akrab, eh ternyata dia harus pergi meninggalkan temannya itu untuk memulai hidup baru, dan begitu seterusnya. Dari situlah akhirnya dia memilih untuk ga dekat sama siapapun. Oke, CMIIW.


source: tumblr


Dari situ saya jadi flashback sama keluhan saya beberapa tahun lalu, topiknya kira-kira serupa sama yang dibilang Agung, cuma beda aja jalan hidupnya, haha ya iyalah


Berawal dari kehidupan setelah lulus SMA. Oh ya, I love my high school moments a lot. Tapi, ga tau kenapa saya ga terlalu khawatir buat ninggalin mereka semua. Ya khawatir sih, sedih sih, tapi “ya udah” gitu. Mungkin karena temen-temen SMA ini domisilnya ya di situ-situ aja ya kan, satu kampung lah, jadi kalau mau ketemu mungkin bakal lebih mudah dan ga akan kehilangan jejak (meski nyatanya ga semudah itu). 

Well,
Setelah dari masa SMA, saya ngerasain beberapa bulan di masa transisi. Memulai kehidupan di Pare, Kediri, Jawa Timur.
Singkat cerita, setelah menjalani masa-masa yang menyenangkan banget bagi saya di Pare ini, saya ketemu banyak banget temen baru yang hangat. Lemme mention their name here; Ulis, Deffy, Nanda, Bun, Ben, Mbak Zulfa, Nita, mereka temen sekamar dan temen sebelah kamar, kecuali Deffy ya, dia bisa tidur dimana aja, fleksibel. Merekalah orang-orang yang ada di saat saya bangun tidur sampai mau tidur lagi.
Beberapa bulan berlalu, di saat kami udah akrab-akrabnya banget, program yang kami ambil di Pare itu udah selesai. Satu persatu dari kami harus pulang. 

Kalau ga salah waktu itu yang pertama ninggalin camp si Deffy, tapi sebelum pulang dia bilang, “rumah aku kan deket dari sini, cuma satu jam setengah, barang-barang aku juga masih di sini kok sebagian, ntar aku sering main ke sini, kok.” Kata Deffy, yang saya akhirnya tau bahwa kata-kata itu cuma bullshit.

Deffy ini paling deket sama saya. Kami satu kamar, satu kelas, dan satu kelompok belajar, kebayang ga tuh betapa di mana ada Deffy, di situ ada saya, dan sebaliknya. Udah gitu kayaknya kami pun punya isi otak yang sama, bedanya cuma di masalah mandi; saya mandinya lama banget, sedangkan Deffy mandinya astaga, bebek pun kalah cepat dari dia.   

Kedua, ada Ulis. Dia juga temen deket saya banget. Kata Nanda, kami kalau tidur suka muter-muter, kadang begitu bangun, bantal saya udah dipake Ulis, dan bantal Ulis udah jadi guling saya.
Suatu hari sebelum tidur, tbh, saya pernah diem-diem nangis karena Ulis bakalan pulang juga dalam waktu dekat. Deffy dan Ulis adalah temen-temen terdekat saya waktu itu, bahkan kita pernah berkhayal jadi Power Puff Girls. Ngaco sih ini, tapi hahahahahha beneran.
source: pngmart.com


Jreng... Jrengg.... Tiba waktunya mereka berdua sudah ga di Pare lagi. Ninggalin saya sendirian. Tapi saya ga terlalu khawatir watu itu karena Ulis ada di Malang, dan Deffy ada di Tulungagung. Saya bisa ke sana, atau mereka bisa ke Pare, anytime.

Terlepas dari mereka semua, di tempat kursus, saya punya dua temen laki-laki yang juga mau saya ceritain di sini. Namanya Firas dan Yoga. Kebetulan kami sekelas dan satu kelompok belajar, jadi tiap hari (kecuali hari libur) ketemu. We’re not too close. We’re not what people said “best friend”. We’re just three person, yang sering ejek-ejekan “wedhus!” lalu kejar-kejaran like stupid ppl. Kalau Firas, dia dari Riau, baru nyentuh bangku 1 SMA, saya juga ga yakin itu anak udah di-MOS apa belum. Dia keliatan paling “bocah” di kelas, juga ramah, dan baik banget. Dia sering nyapa saya, kita sering ngobrol, entah ngobrol beneran atau sekadar basa-basi supaya ngelatih speaking masing-masing. Kalau Yoga, dia dari Malang, dia bawa sepeda, dia suka sama cewek di kursusan namanya Diana, dia lucu, tapi nyebelin banget, tapi juga baik karena pernah neraktir saya, haha.
Jadi, selama di kursusan kami sering ejek-ejekan "wedhus", kejar-kejaran, dan jitak-jitakan. Kayak bocah SD banget emang, malu-maluin umur.

Sampai suatu hari, Yoga pulang duluan. Ejek-ejekan "wedhus" antara saya sama Firas udah ga terasa seru lagi. Ga ada yang ngelucu dan ngejar-ngejar ga jelas lagi. Karena si penggagas ejek-ejekan wedhus itu sendiri udah entah lagi di mana.

“Yoga jahat ya, pulang ga bilang-bilang.” Kata saya ke Firas, suatu hari.

Setiap hari, saya berangkat kursus tanpa Deffy dan Ulis. Di kelas, Yoga pun udah ga ada. *daun berguguran* 

Beberapa waktu setelahnya, saya resign dari tempat kursus, dan pindah ke tempat kursus yang lain. Saya bilang ke Firas kalau saya pindah kursusan dan bulan depan bakal pulang ke Lampung. Firas mulai protes, “Why so fast? You and Mas Yoga so cruel! Why you left me alone? :’(“
Saya tau Firas ga bener-bener alone, dan ga bener-bener nangis kayak emoticonnya. Hahaha. Tapi ga tau kenapa rasanya ada sesuatu yang bikin saya "mikir". 

Saya emang ga begitu akrab sama Firas. Tapi kalau boleh saya tebak, Firas ini pasti orang yang hangat sama keluarganya. Pun saya, udah ngerasa doi ini kayak adik saya sendiri. Bahkan, kita biasa saling bertukar “Firas, I miss you so badly! // “Miss you too, Mbak!” tanpa rasa sungkan, eh tapi ga tau ya kalau sekarang, hehe. Btw, kalau ga salah, sekarang doi lagi melanjutkan ke salah satu pondok di Bogor buat jadi hafidz, masha’Allah.

Dari Firas, kita loncat dulu ke Mbak Zulfa.
Setelah pindah dari tempat kursus dan asrama yang lama, saya meneruskan perjalanan di tempat kursus dan kosan yang baru bareng Mbak Zulfa. Jadi, setiap hari dari awal melek sampai mau merem, hidup saya dipenuhi Mbak Zulfa. Satu-satunya temen deket saya akhirnya ya Mbak Zulfa ini. Btw, saya emang tipikal orang yang ga mudah buat akrab sama orang lain ya.

Time by time, setelah melewati haha-hihi yang panjang, saya akhirnya harus pulang ke Lampung dan meninggalkan Pare, dan tentunya Mbak Zulfa.
Dulu saya ngebayangin, gimana jadinya kalau tanpa Deffy? ... tanpa Ulis? ... Firas dan Yoga? Dan akhirnya terakhir yang rasanya berat banget, saya harus ninggalin Pare, dan Mbak Zulfa.

Yang bikin sedih adalah, mereka semua orang jauh, dan kami ga satu tujuan. Kemungkinan-kemungkinan untuk bisa ketemu lagi di lain waktu itu kecil sekali rasanya. Duh, nyess..sek, tapi bagaimanapun saya harus tetap pulang. Life must go on ya kan.

Waktu pamitan sama Mbak Zulfa, kami cuma bersikap biasa aja. Saya masukin tas ke dalem mobil, salaman, pelukan, lalu masuk mobil, dan... pergi. 
Mbak Zulfa bilang, “hati-hati ya!” dengan senyum seperti biasanya. Tapi saya yakin, di dalem hatinya, Mbak Zulfa ga se-biasa-aja itu.

Masuk ke masa kuliah. Teman pertama yang saya kenal (selain anak sekamar di asrama) adalah Alya. Waktu itu kami punya jadwal tes EPRT yang sama. Dan ternyata, kelompok PKKMB kita sama. Dan ternyata, kelas kita sama. Dan ternyata, NIM kita sebelahan. Dan ternyata, kita punya “another plan” yang sama. Dan ternyata, kita dari jalur masuk yang sama. Dan ternyata, waktu SBMPTN kita daftar di jurusan dan univ yang sama. Dan ternyata, definisi “cowok ganteng” kita sama juga. Masha’Allah. Keren banget Allah bisa mempertemukan saya sama Alya yang waktu itu sama-sama abis ditolak FK UPN Jakarta. Akhirnya saya akrab sama Alya. Kita kuliah, kita nginep di kosan naurah, kita makan mie rebus tiap malem jumat, kita main di atap kampus, kita makan nasi uduk tiap hari kamis, kita ke perpus tiap jeda kuliah, kita ngetap absensi di kelas lalu cabut, lalu merenungkan hidup di balkon fakultas.

Di saat saya udah ngerasa selaras banget sama Alya, di semester tiga dia resign. Alya pindah ke STAN karena cita-citanya. Saya sempet mikir, gimana jadinya ngejalanin hari-hari di kampus tanpa Alya?
Again, saya memang orang yang susah buat nyaman dan akrab sama orang lain.
Oke, saya punya temen akrab yang lain. Tapi, siapa nih yang bakal notice kalau saya lagi dengerin Danilla, WSTCC, Banda Neira, bahkan sampai kings of convenience. Atau sama siapa lagi saya bisa ngomongin tumblr diblokir? Atau pergi ke kineruku? Atau ngobrolin cowok-cowok gondrong? Atau ngediskusiin something dari yang ga berfaedah sama sekali sampai hal yang "agak" berfaedah dikit? Sejauh ini, belum ada sih temen yang begitu, kecuali Alya.

Oke, setelah Alya pergi, saya jadi inget lagi pesan Firas yang pernah dikirim ke saya setelah saya “saying good bye” ke Firas. “You and Mas Yoga so cruel! Why you left me alone? :’(“
Iya juga ya. Ditinggalin emang sedih ya. Meninggalkan juga sama sedihnya. Lah, kok saya jadi baper? Lagi-lagi sih, mungkin emang karena buat saya pribadi tuh susah bisa akrab dan membuka diri ke orang-orang.  

Tapi, dari semua perjalanan itu, saya buat kesimpulan bahwa adanya pertemuan dan perpisahan menandakan bahwa hidup kita masih berjalan. Yang hidup aja bakal mati, apalagi yang cuma datang, pasti bakal pergi.


Akhirnya apa?
.
..
...
Akhirnya, ga tau kenapa, beberapa tahun belakangan saya ngerasa ada yang berubah dari diri saya. Semacam ada perasaan "Oh, I won’t get too close to people anymore", entah karena pengalaman itu atau emang pengaruh kedewasaan aja kali ya. 

Tapi, di sisi lain, saya juga pengen nasihatin diri sendiri untuk lebih realistis. Yang datang, pasti suatu saat bakalan pergi. "Udah, jalanin aja..." 

Yaudah gitu aja. Terima kasih sudah membaca isi kepala saya hari ini.

source: pinterest
This entry was posted in