Saturday, October 2, 2021

Guys Before Ending

 

Bandung, 1 November 2017


Pertama,

Di semester satu kuliah, temen-temenku dibuat ga bisa tidur nyenyak gara-gara sebuah mata kuliah yang kata mereka paling horor; Algoritma dan Pemrograman, mungkin disamping pemrogramannya agak susah, dosennya juga emang  terkenal dosen paling galak di kampus (sumber: senior). Nasib baiknya, waktu SMA aku sempet jadi ketua koordinator untuk tim Olimpiade Komputer yangmana memang mempelajari soal algoritma. Jadi, ALPRO adalah hal yang ga asing buat aku. Ga heran kalau aku cukup unggul di kelas untuk mata kuliah 4 sks ini. Di sisi lain, ada juga (sebut saja) Hilman, sosok yang kukenal pintar, dewasa, dan lumayan ambis dalam mengejar nilai.

Dari awal kuliah, dia mulai sering chat aku entah dengan motif apa. Lama-lama kata “sering” itu lebih cocok dikatakan “setiap waktu”. Sampe akhirnya suatu hari dia jadian sama temenku. Aku sempet mikir “lah, deketnya sama siapa, jadiannya sama siapa” tapi bukan bermaksud cemburu, karena memang aku ga ada perasaan juga, cuma heran aja.

Suatu hari aku denger kabar kalau dia putus sama pacarnya. Dia balik lagi sering chat aku, bahkan dengan perhatian yang... seperti orang punya “perasaan spesial” #YKWIM

Bahkan suatu hari dia nulis surat buat aku, dan dibaca oleh salah satu temen kelas dengan disaksikan oleh temen-temen yang lain. Aku sih ya cuma cengar-cengir aja.

Oh iya, dia juga sempet buat tulisan tentang perasaannya ke aku dari awal ketemu. Katanya, dulu, dia cuma berniat manfaatin aku aja. Dia pengen nunjukin ke aku kalau dunia ini kejam. Dia pengen nunjukin ke aku bahwa orang yang banyak senyam-senyum kayak aku ini suatu saat juga bakalan merasakan kebencian dalam hidup. Aku ga tau kenapa dia berniat sejahat itu sama orang yang baru dikenalnya. Entah mungkin karena dia punya suatu “kecemburuan sosial” karena dulu aku unggul di matkul alpro, banyak temen, sering ketawa, dsb atau ada motif lain. Sampai suatu hari, dia bilang, dia menyerah untuk  “manfaatin” aku. Hilman bilang kalau dia gagal bikin aku capek buat menolong dia. Trus aku jadi mikir sendiri, “emang aku pernah nolong dia apaan?” Mulai dari situlah Hilman jadi punya “perasaan” ke aku. Dia bilang, dari aku dia belajar bahwa cara terbaik untuk membalas sebuah kejahatan adalah dengan kebaikan. Itu kata-kata yang aku inget banget sampe sekarang. Aku seneng bisa memberi dampak baik ke seseorang. Tapi di sisi lain aku juga jadi sedih dan merasa bersalah, karena ga bisa membalas perasaannya.


 

Yang kedua. 

Aku aktif di sebuah UKM kampus. Suatu hari, aku dengar kabar kalau ternyata teman satu UKM yang sebut saja namnya Aldi, adalah seorang pegiat sastra di SMA-nya. Jadilah aku mulai chat Aldi sekadar ingin bertukar pikiran karena aku mulai jenuh dengan kuliahku. Aldi menjadi sangat asik untuk diajak bertukar pikiran tentang buku dan impian-impian kita. Tapi sayangnya, Aldi jadi ga seasik itu ketika dia tiba-tiba bilang kalau dari awal kami ketemu, dia ternyata punya perasaan tapi malu untuk kenalan. Dan di kesempatan ini dia langsung nyatain perasaannya itu ke aku. Aku menolaknya lembut-lembut sekali, karena memang ga ada perasaan lebih dari temen. Udah deh Aldi terima keputusan aku dan kita berteman seperti biasa.

Di saat suasana pertemanan antara aku dan Aldi sudah biasa saja, ga ada rasa canggung lagi, Aldi tiba-tiba menyatakan perasaan lagi. Dan yang aku kurang suka disini adalah caranya yang terkesan “ngotot”. Lalu dia minta maaf, dan kita kembali menjadi teman yang haha-hihi lagi. Eh tapi ternyata dia masih mengulangi lagi. Trus dia minta maaf lagi. Dan begitu terus siklusnya. Aku capek menanggapinya, dan kupikir lebih baik aku menghilang. Ok, aku menghilang. Cling..

Tapi ya namanya juga satu fakultas, hampir tiap hari ketemu, dan sempet satu UKM juga, jadi ya ketemu lagi. Akhirnya, kami mencoba untuk berteman dengan baik-baik saja meskipun ternyata Aldi hanya (berpura-pura) baik-baik aja.


Yang ketiga,

Aku mengikuti sebuah kepanitiaan kepemimpinan yang cukup besar di kampusku. Suatu hari aku rapat divisi untuk yang pertama kali. Di antara sekitar sembilan orang yang datang, ada satu orang laki-laki yang bikin aku "ngelirik" karena dia mirip seseorang di masa lalu. Eh, tapi malah laki-laki di sebelahnya, sebut saja Raja, yang "ngelirik" ke aku. Lalu, karena kami satu kegiatan, akhirnya jadi sering komunikasi. Dan kebetulan kami punya minat yang sama, dan juga cukup sefrekuensi, jadi cocok buat berteman akrab. Kata temen-temenku, Raja suka sama aku. Ya aku juga suka sih soalnya lucu hihi.

Tiga tahun berteman dekat banget sama Raja. Berantem, debat, ngambek, ketawa, nangis, happy, banyak sekali yang kami lalui. Dari awal ketemu, Raja adalah sosok laki-laki yang poloooooos banget. Tapi satu hal yang aku salut banget dari Raja sampai saat ini adalah, dia seorang pembelajar yang ga pernah berhenti berproses. Proud of Raja so much. 


Yang keempat,

Yang kelima,

Yang keenam,

dan lainnya lagi masih ada, tapi 3 orang di atas adalah yang melahirkan banyak cerita. Dan menariknya, ketiga orang di atas saling tau satu sama lain kalau mereka lagi (semacam) "usaha" ngedeketin perempuan yang sama. Lucu.


Tambahan 03/10/2021:

Semoga kalian semua selalu diselimuti kebaikan, ya! Senang sekali baca ulang tulisan lama begini😊


Terpaksa Ikut Lomba Menulis Puisi



Saya mulai suka menulis cerita sejak SD. Saya suka cerpen, cerbung, novel, tapi saya nggak suka puisi. 

Waktu SMP kelas 2, guru B.Indo saya masuk kelas dan nanya, "di sini ada yg suka nulis puisi? Nanti diikutkan lomba FLS2N mewakili sekolah di kabupaten."

Saya diem aja, karena emang pendiem, tp temen-temen sekelas heboh banget, "Mawar, Bu!! Iya Bu, Mawar suka nulis! Iya Bu, nih ada cerpennya Bu *ngobrak-ngabrik laci nyari kertas-kertas cerpen saya"
rasanya kesel gimana gitu, karena saya emang nggak suka nulis puisi, kalau lombanya nulis cerpen ya oke lah, tapi ini temen-temen saya kok pada sotoy banget ya.

Akhirnya, saya ikut lomba menulis puisi tingkat kabupaten.