Tuesday, September 11, 2018

Menghabiskan Hari Bersamamu



Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan secangkir minuman hangat. Tidak harus kopi, yang penting sesuai selera. Bisa jadi kamu lebih suka teh panas, bisa jadi juga aku lebih berselera dengan madu hangat.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan duduk berhadapan di suatu tempat. Tidak harus kafe dengan live musik kekinian, yang penting kita nyaman. Bisa jadi kamu lebih suka alam, bisa jadi juga aku lebih tertarik dengan warung bakso pinggir jalan.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan bercerita sepanjang hari. Sampai kamu tertawa, sampai kamu menangis.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan pertanyaan seputar bagaimana rencana kita untuk lima tahun ke depan, bukan seputar bagaimana pendapat kita tentang kinerja para politikus dari partai sebelah.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan mengunjungi taman bunga, galeri seni, pertunjukan budaya, atau kebun binatang. Boleh juga menjelajah alam, atau mengamati benda-benda langit.

Aku ingin menghabiskan hari bersamamu dengan mengamati lalu memahami.

Aku

      ingin

             menghabiskan

                            hari

                                   bersamamu

                                              untuk saling menemukan diri kita yang sebenarnya.



Bandung, 27 September 2016
This entry was posted in

Yang Tertinggal

source: pinterest


tiap pagi aku bangun paling dulu
mengikat kencang simpul tali sepatu
melipat rapi kerah kemeja biru
menyisir klimis rambut tipisku

kujatuhkan langkah terbaik di kampus itu
belajar lalu berorasi dari waktu ke waktu
sampai serak suaraku, sampai habis peluhku
pagi dan siang makan jadi satu
hari libur dan tanggal merah hanya isu
sibukku menjadi candu

larut tiba waktu istirahatku
merebah
melepas lelah
di ruang petak tiga kali empat
di ratusan kilometer jauhnya dari rumah

hari ini
kesibukan mengiringiku
mungkin saja besok juga begitu
“baguslah,” kataku
agar tak sia-sia hidupku

tapi tunggu dulu,
rasanya,
ada yang tertinggal

oh, iya
aku hampir lupa sesuatu

aku lupa
belum mengucap rindu; pada Ibu
yang barangkali sudah menunggu.


-Bandung, di suatu waktu sibukku.
This entry was posted in

Monday, September 10, 2018

Vidi Aldiano and Me




Liburan weekend, aku dan keluargaku berekreasi ke sebuah pantai yang entah apa namanya dan entah di mana tempatnya. Aku hanya duduk santai di belakang supir menunggu sampai di tempat tujuan.
            
Tidak lama, sampailah kami di sebuah pantai yang ramainya naudzubillahi minzalik, amat sangat ramai sekali. Tak salah jika ramai, karena pantai itu di penuhi dengan banyak sekali pedagang, bahkan, ada sebuah pasar tradisional di pantai itu. Aneh? Memang! aku pun merasa begitu.
           
Ibuku yang gemar belanja langsung menyerbu pasar bersama adiknya. Sedangkan ayah dan kakakku diam saja menikmati pemandangan yang sebenarnya tak enak di lihat, karena terlalu banyak penjual makanan dan tentunya terlalu banyak pula sampah berserakan sana-sini. Bagaimana denganku?
            
Saat itu adalah waktu dzuhur. Aku sibuk kesana kemari mencari tempat wudhu untuk segera melaksanakan ibadah. Kutanya kepada kakakku yang sedang diam, “Kak, tempat wudhu di mana sih?”
            
       “Itu tuh!” kakakku menunjuk ke sebuah kran air di depan sebuah warung ikan hias. Lalu ia melanjutkan, “tapi, katanya kalau wudhu di sana bayar.”
           
           “Hah bayar? Cuma numpang wudhu bayar? Ck,ck…”
            
Aku merogoh saku celanaku. Tidak ada uang. Akhirnya aku berkeliling mencari kamar mandi. Dan kutemukanlah sebuah kamar mandi umum yang di dalamnya terdapat banyak sekali kran air berjejer.
            
Sepi. Bahkan tak ada satu pun orang. Lalu aku masuk dan segera mengambil air wudhu. Tiba-tiba….. datanglah sesosok malaikat kiriman Tuhan yang tampan nan rupawan dengan senyum manisnya yang semanis madu di campur gula batu di tambah gula aren, tak lupa gula putih 1kg, telur 5 butir, tepung 1 kg, dan jadilah kue bolu. 

            Hei, itu VIDI ALDIANO!!!

Aku tentunya amat sangat tak menyangka bisa bertemu untuk yang kali pertama dengan Vidi Aldiano, apalagi di tempat seperti ini. :: kamar mandi ::
            
Jantungku berdebar kencang seperti hentakan kaki para kompeni Jepang. Dag dig dug dag dig dug.
           
            “KAK VIDI!!!! KAK VIDI KAN???” pekikku histeris.
            “Iyaa.. hehe” jawabnya santai.
            “Waah..” mataku berkaca kaca, “Mau ngapain kak?” sambungku.
            “Mau wudhu, nih.”
            “EH, TUNGGU! TUNGGU, KAK!! JANGAN WUDHU DULU!!!”
            Aku langsung meninggalkan wudhuku, dan berlari mendekati… Vidi Aldiano. Entah apa yang kulakukan, tiba-tiba aku di peluk dan cipika-cipiki dengannya.
            “Ngapain di Lampung, kak? Jalan-jalan kah?” Tanyaku.
            “Hehe, iya nih, refreshing aja. Soalnya tadi abis show di Medan.”
            “Oh, haha…” (dalam hati: hah? Medan-Lampung?? Kok, agak ga nyambung ya?)
            “Sering-sering main ke Lampung, donk, kak!”
            “Iya, Insyaallah, deh. Ya udah ya, Mawar, mau wudhu, nih!”
            “Oh, iya, kak. Sama nih, aku juga.”

            Saat di luar kamar mandi. Aku dan kak Vidi berpisah arah. Sebelumnya, kak Vidi bilang, “ya udah, good luck ya!”
            “Iya, makasih, kak.”
            
Sesudah kejadian itu, aku menjadi tak sabar ingin cepat-cepat hari berganti. Pokoknya besok saya mau cerita sama atuk! Sama temen-temen semua! Saya harus cerita tentang ini! 
           
Esok hari pun tiba, dan saya terbangun. Ternyata itu semua cuma mimpi.



Ditulis pada 2011.


Piket



Tepat pukul 04.45 pagi, alarm ponselku berdering. Memang aku sengaja memasang alarm pagi-pagi di hari libur seperti ini karena hari ini aku akan pergi ke sekolah untuk sekadar piket kelas.
            
Ohh, tiada yang hebat dan mempesonaa.. ketika kau lewat di hadapankuu.. biasa sajaa..aa..
            
Vidi Aldiano - Nuansa Bening, itulah lagu yang kupilih untuk memancing jasadku agar bisa bangun dari tidur yang selalu saja kelewat nyenyak ini. 
           
Aku bangun. Kulihat jam di ponselku, “Ah, masih jam lima  lalu aku kembali memejamkan mata dan memeluk erat guling yang terbungkus kain kasar, jadi seperti pocong. Di dalam tidurku, aku bermimpi bahwa aku sudah bangun. Tanpa mandi, cepat-cepat aku memakai seragam pramuka. Kemudian berlari kalang-kabut kesana-kemari seperti orang kebakaran jenggot keramatnya. Di dekat rak sepatu, aku sibuk mencari sepatuku sambil komat-kamit sendiri. Sepatuku hilang! Oh, Neptunus, di mana terakhir kali aku menaruh sepatu?? Aku tak berhenti mencari, mencari, dan terus mencari hingga sela-sela kecil lemari kubongkari semua. Orang-orang seluruh penghuni isi rumahku pun ikut berpartisipasi atas kesibukan ini. Kulirik jam dinding yang tergantung di atas rak sepatu itu. Tepat pukul 08.00.
            Aih, kan, udah jam delapan! Udah terlambat ini! Gak jadi sekolah, lah!” kata-kataku menghentak dengan nada marah.
            
Aku kesal dengan orang-orang rumah. Tapi malah aku yang dimarahi habis-habisan oleh ibuku karena pagi-pagi sudah menyusahkan banyak orang di rumah. Lalu aku masuk ke dalam kamar dan tidak jadi berangkat ke sekolah. Aku berbaring kesal di atas kasur. Melepas kaos kaki dan melemparnya ke meja belajar. Kubenamkan wajahku di bawah selimut, kupejamkan mata erat-erat untuk menahan air mata kekesalanku. Beberapa detik setelah itu, aku bangun! Aku benar-benar bangun dari tidur dan mimpi pendekku tadi. Aku merasa aneh. Nafasku terengah-engah, emosiku masih menukik, mimpi tadi rasanya seperti nyata kualami. Cepat-cepat aku menuju kamar mandi. Ketika aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, aku keluar lagi sekedar untuk menengok rak sepatu.
Alhamdulillah, sepatunya masih ada,” gumamku sembari tersenyum kecil.

Selesai mandi, aku terburu-buru berangkat sekolah hingga kalang kabut tak karuan, persis seperti di dalam mimpi, tapi bedanya, sepatuku tak hilang, aku terburu hanya karena mengejar waktu.
          
Ibuku yang sedang heran melihatku terburu-buru bertanya, “Loh? Kok sekolah? Ini kan libur?”
Aku menjawab sambil mengenakan kaos kaki, “Aturan baru, walau libur tetep harus piket kelas.”
Ibuku bertanya lagi, “Oo... lah ga sarapan dulu?”
Kujawab sambil mengenakan sepatu, “Ga usah, cuma bentar kok!”
Tiba-tiba adikku berteriak ingin ikut, “Ikuuut! Aban mau ikuuuttt!!!” mulutnya sengaja di maju-majukan menyamakan pipinya yang lebih menonjol.
“Ikuuut!!” ia terus menjerit tetapi malah tetap diam di tempat.
“Cepet pakai sendalnya! Cepet!!!” bentakku galak.

 Sampai di sekolah, aku masuk lewat gerbang depan. Kutelusuri lorong tempat parkir guru.
            Sreekk, sreekk, sreekkk….
Hanya terdengar suara langkahan kakiku saja. Kutengok sekeliling halaman sekolah. Sunyi senyap. Tak ada aktivitas apa pun.
            Sssssshhhhh……..
Suara hempasan dedaunan yang saling bergesekan menyambutku yang tercengang sendirian di ujung lapangan basket sambil melongo. Kuambil handphone di saku rok pramukaku. Kutulis pesan pendek untuk temanku, Na, kamu berangkat ga? Saya udah di sekolah, tp kok ga ada satu pun manusia sih? Kayak kuburan ...
            Begitu isi pesan singkatku. Dan segera kukirim ke kawanku: Nana Maulana.
           
Seketika kulihat di layar ponselku. Pengiriman pesan telah gagal. Aih, sial! Ternyata pulsaku habis! Aku berjalan kembali keluar sekolah. Ada seorang anak kelas tujuh, entah siapa namanya, ingin sekali rasanya aku bertanya, tapi anak itu terlanjur buru-buru pulang seperti habis melihat setan perempuan yang gosip-gosipnya setan itu bernama Yuni, dia ada di sekolahku. Ah, tentang itu aku tak percaya. Hanya gosip.

Apa boleh buat lagi, akhirnya aku kembali pulang ke rumah dengan rasa kesal. Di jalan, aku terus menggerutu, “ Ih, pada ke mana sih anak-anaknya?! Rese banget! Bodo amat lah kalau nanti dapet poin gara-gara ga piket!”

Di rumah.

Aku menunggu pukul sembilan. Lebih tepatnya lagi menunggu konter dekat rumahku buka. Lalu aku membeli pulsa dan mengirim lagi pesan singkat ke Nana.
            Na, kamu berangkat ga, tah? Tadi aku udah ke sekolah, tp ga ada satu pun manusia. Hening. Kayak kuburan…
            Terkirim. Dan segera di balas oleh kawanku.
            Berangkat. Kamu berangkat jam berapa?
            Kubalas:
            Jam 7 lewat dikit banget. Emang harusnya berangkat jam berapa?
            Terkirim, dan ia segera membalas lagi.
            Jam 9 baru mulai rame.
            Kubalas lagi:
            Aih, kamu ga bilang loh kalau berangkat jam segitu! Terus, tadi di absen kah sama Pak Kuat?
            Nana membalas lagi.
            Iya. Yang ga dateng dapet poin.
           
Tak kubalas lagi. Ah, biarlah. Tak terlalu penting piket di hari libur itu.


Ditulis pada 4 Juni 2011.

Surat Untuk Pak SBY



Pak SBY yang sangat terhormat,

Saya sangat mendukung bapak saat pemilihan presiden 2009-2014 kemarin, walau saya gak ikut nyontreng (belum cukup umur :p)
            
Saya senang bisa menulis surat ini untuk Bapak, saya juga ingin bertanya,

  1. Seberapa besar Bapak mendukung potensi dan karya anak-anak Indonesia? Mengapa?
  2. Saya sangat suka film-film Indonesia terutama yang bertema perjuangan seorang anak meraih mimpinya, kalau Bapak, film apa sih yang paling Bapak suka?
  3. Apakah dari kecil Bapak sudah bercita-cita menjadi seorang presiden?
  4. Apa harapan Bapak dari generasi-generasi penerus bangsa sekarang ini khususnya kalangan remaja?
Itu saja pertanyaan saya, terima kasih.
We love Indonesia full. 
 Lanjutkan!!






Ditulis pada 3 Desember 2009.

nb: kalau ga salah ini untuk ikut sayembara dari majalah Aneka Yess!
lucu ya aq wqwq

Marahan



13 Januari 2010



Siang itu di sekolah lagi pelajaran praktek fisika. Praktek kali ini aku cuma sama si ‘At’. Padahal kata Bu Asih satu kelompok suruh berempat atau lima. Waktu lagi ngambil alat-alat untuk praktek, aku sama temenku (At) cuma kebagian bahannya dikit, sedangkan mereka (tiga orang sahabatku yg lain) dapet banyaaak banget.

Kalau lagi praktek kan kita pasti pada sibuk sendiri tuh, sana-sini lah, nyari ini nyari itu lah, yaaah, pada sok sibuk semua lah pokoknya. Dan saat itu mereka bertiga gak ngajak aku sama At. Entah kenapa, aku sama At juga lagi agak gimanaaa gitu sama mereka. Entah juga kenapa mereka sekarang kayaknya agak berubah. Kayaknya sih semenjak mereka pada pacar-pacaran. Sedangkan aku sama At udah berprinsip kalau kita ga mau pacaran di masa SMP ini.

Aku gak nyalahin mereka bertiga sih. Nggak sama sekali.
Aku, At, dan mereka emang gak salah! Di antara kami emang gak ada yang salah.

Saat itu, aku melihat diriku dan kawanku (At) rasanya kasihan sekali. Mengapa kami cuma berdua? Mengapa kami tak bersama mereka? Mengapa? Why? Why? And why?

TAPI, bukan berarti kita gak bersama lagi, kita masih tetap yang dulu, hanyaaaa sedikit berbeda aja rasanya.


======================================================================

Tulisan di atas telah melalui proses editing demi mengubah kata-kata alay yang sempat hits pada masanya.


nb: 
At = Lintang, sedangkan 3 orang yang lain itu Erinda, Okta, Wulan.
Hahahaha ternyata dari SMP kami udah pinter drama gitu.


Sunday, September 9, 2018

Museum Geologi, dari ceritamu.


Lampung, Januari 2016.

Liburan tahun lalu, kau menceritakan padaku tentang Museum Geologi. Katamu, di dalamnya terdapat replika fosil Tyrannosaurus Rex. Aku tahu bahwa sebenarnya kau, jangankan masuk, melewatinya pun belum pernah. Tapi kau bercerita seolah-olah jiwamu pernah menyambanginya. Aku mengiyakan segala ceritamu.

Akhir dari liburan itu, kau ikut mengantarku sampai terminal pagi-pagi sekali. Kau sempat ngambek karena tidak diberikan waktu untuk cuci muka dan sikat gigi dulu. Aku merekam keluguanmu itu. Sambil menunggu mobil yang akan membawaku berangkat ke pulau seberang, kamu menceritakan padaku, lagi, tentang replika fosil Tyrannosaurus Rex yang ada di Museum Geologi. Entah dari mana kamu tahu hal itu, aku tak sempat menanyakan. Sampai waktu keberangkatanku tiba, kamu baru mengakhiri ceritamu, lalu membisikkanku, “Mbak, nanti Januari aku ulang tahun, jangan lupa kirim kado buku tentang dinosaurus, ya. Oke?”

Aku tertawa kecil, lalu mengiyakan dengan semangat.



Bandung, Desember 2017.

Liburan sekolahmu kali ini sepertinya sangat menyenangkan. Sebab, selain mengunjungiku yang tengah sibuk sekali menyusun tugas akhir, kita juga sama-sama pergi ke Museum Geologi, Bandung.




This entry was posted in

Friday, September 7, 2018

Observasi Anak-Anak Kelas (SMP)

Tulisan ini terakhir diperbaharui pada 26/07/2010.


Observasi anak-anak Sondies.



-Intan kalau ketawa pasti sambil mukul-mukul meja.
-Kata Wulan, “cinta itu murni, murni itu emas, emas itu kuning, kuning itu tai. Jadi, cinta itu tai.”  lalu temen-temen langsung pada ngakak semua :D
-Deni sering dibilangin temen-temen anak autis.
-Siska & Yanti kalau istirahat suka melancong sana-sini.
-Erinda suka banget manga.
-Intan kalau lagi jam kosong suka gambar-gambar di bukunya.
-Dial suka ngerjain orang dari dalem kelas, tiap ada anak lewat yang gak dia kenal, sama Dial dipanggil “Paijo!!”
-Deni katanya pengen jadi presiden 2028.
-Kaki kursinya Annisa patah, sudah banyak korban yg jatoh di kursi itu.
-Dina sering di panggil ‘adek’ karena dia paling kecil.
-Khoirun sering di panggil ‘Makkoi’ gak tau siapa yg memberi nama, mungkin karena dia ke-emak-emak-an.
-Masykur kalau piket (biasanya) baru berangkat kalau kelas udah bersih.
-Khoirun (makkoi) suka benerin antena tv kelas. 
-Lala duduknya di pojokan.
-Erinda pernah nyanyi lagu Laskar Pelangi di depan kelas pas pelajarannya Pak Marno.
-Okta kalau ngomong cepeeeet banget, gak ada koma gak ada spasi.
-Febri sering banget ngantuk kalau lagi belajar.
-Yuda narsis minta di panggil Dude. Kresnamal Yuda jadi Kresnamal Dude. Karena merasa dirinya mirip Dude Herlino.
-Sherly kalau ngomong pasti ada “Baby….” Dengan gaya lebay.
-Sherly pasukan armada sejati (pada masanya).
-Gandung benci banget Kangen Band. **Benar-benar cinta?
-Yanti, Siska, dan Putri ngefans sama Mr. Heri (guru bahasa Inggris).
-Waktu kelas 8, Gandung gak suka kalau Mr. Heri masuk, karena dia merasa  Mr. Heri saingannya (takut kalah ganteng mungkin…hehe).
-Nana suka ngikutin gaya bicaranya Pak Tarno (tukang sulap) "Bim salabim jadi apa prok prok prok.. Apa hayooo."
-Siska dkk suka curhat sama Mr. tusiman.
-Tika juga suka curhat sama Mr. tusiman.
-Lintang sering kebelet pipis di jalan.
-Wulan suka banget spongebob.
-Wulan orangnya apatis.
-Yuda kalau lagi nonton tv mulutnya gak bisa mingkem.
-Masykur rumahnya paling deket tapi berangkatnya paling terakhir, biasanya kalau film George udah abis baru dia dateng.
-Dial paling pelit dan perhitungan di kelas.
-Deni kalau pakai baju pramuka kancing yang paling atas gak di buka.
-Gandung & Siska duduknya sampingan, dan seumur-umur ga pernah akur, kayak Tom&Jerry.
-Dial suka nyanyi lagu yang di iklan adem sari.
-Eka tiada hari tanpa curcol sama Intan.
-Febri pernah ngelempar sapu sampe mecahin kaca jendela kelas.
-Waktu jadi ketua kelas, Erinda pernah marah banget sama Dial sampe ngelempar penghapus papan tulis ke Dial. *dial lagi, dial lagi*
-Eka pernah pas mau pulang ternyata bawa palunya Pak Handoyo di dalem tasnya.
-Anak-anak cowok pernah bolos kelas, ke warnet.
-Anak-anak cowok pernah ngomongin Tatik Yani. (?) *sejujurnya, saya ga tau apa masalahnya si TY ini
-Setiap pagi selalu nonton Curious George, dan kalau siang nonton Klik!

tontonan wajib tiap pagi sebelum bel masuk
tontonan wajib di jam isoma