Saturday, October 22, 2022

XYZ

 Bismillah.


Sejak turunnya kertas kuning a.k.a SK CPNS, saya jarang banget punya tenaga buat sekadar menulis basa-basi di blog dan di platform manapun. Tapi sejujurnya saya sedih banget dan masih mikirin gimana caranya supaya di luar jam kerja saya masih punya energi buat nulis. :(

Saturday, October 2, 2021

Guys Before Ending

 

Bandung, 1 November 2017


Pertama,

Di semester satu kuliah, temen-temenku dibuat ga bisa tidur nyenyak gara-gara sebuah mata kuliah yang kata mereka paling horor; Algoritma dan Pemrograman, mungkin disamping pemrogramannya agak susah, dosennya juga emang  terkenal dosen paling galak di kampus (sumber: senior). Nasib baiknya, waktu SMA aku sempet jadi ketua koordinator untuk tim Olimpiade Komputer yangmana memang mempelajari soal algoritma. Jadi, ALPRO adalah hal yang ga asing buat aku. Ga heran kalau aku cukup unggul di kelas untuk mata kuliah 4 sks ini. Di sisi lain, ada juga (sebut saja) Hilman, sosok yang kukenal pintar, dewasa, dan lumayan ambis dalam mengejar nilai.

Dari awal kuliah, dia mulai sering chat aku entah dengan motif apa. Lama-lama kata “sering” itu lebih cocok dikatakan “setiap waktu”. Sampe akhirnya suatu hari dia jadian sama temenku. Aku sempet mikir “lah, deketnya sama siapa, jadiannya sama siapa” tapi bukan bermaksud cemburu, karena memang aku ga ada perasaan juga, cuma heran aja.

Suatu hari aku denger kabar kalau dia putus sama pacarnya. Dia balik lagi sering chat aku, bahkan dengan perhatian yang... seperti orang punya “perasaan spesial” #YKWIM

Bahkan suatu hari dia nulis surat buat aku, dan dibaca oleh salah satu temen kelas dengan disaksikan oleh temen-temen yang lain. Aku sih ya cuma cengar-cengir aja.

Oh iya, dia juga sempet buat tulisan tentang perasaannya ke aku dari awal ketemu. Katanya, dulu, dia cuma berniat manfaatin aku aja. Dia pengen nunjukin ke aku kalau dunia ini kejam. Dia pengen nunjukin ke aku bahwa orang yang banyak senyam-senyum kayak aku ini suatu saat juga bakalan merasakan kebencian dalam hidup. Aku ga tau kenapa dia berniat sejahat itu sama orang yang baru dikenalnya. Entah mungkin karena dia punya suatu “kecemburuan sosial” karena dulu aku unggul di matkul alpro, banyak temen, sering ketawa, dsb atau ada motif lain. Sampai suatu hari, dia bilang, dia menyerah untuk  “manfaatin” aku. Hilman bilang kalau dia gagal bikin aku capek buat menolong dia. Trus aku jadi mikir sendiri, “emang aku pernah nolong dia apaan?” Mulai dari situlah Hilman jadi punya “perasaan” ke aku. Dia bilang, dari aku dia belajar bahwa cara terbaik untuk membalas sebuah kejahatan adalah dengan kebaikan. Itu kata-kata yang aku inget banget sampe sekarang. Aku seneng bisa memberi dampak baik ke seseorang. Tapi di sisi lain aku juga jadi sedih dan merasa bersalah, karena ga bisa membalas perasaannya.


 

Yang kedua. 

Aku aktif di sebuah UKM kampus. Suatu hari, aku dengar kabar kalau ternyata teman satu UKM yang sebut saja namnya Aldi, adalah seorang pegiat sastra di SMA-nya. Jadilah aku mulai chat Aldi sekadar ingin bertukar pikiran karena aku mulai jenuh dengan kuliahku. Aldi menjadi sangat asik untuk diajak bertukar pikiran tentang buku dan impian-impian kita. Tapi sayangnya, Aldi jadi ga seasik itu ketika dia tiba-tiba bilang kalau dari awal kami ketemu, dia ternyata punya perasaan tapi malu untuk kenalan. Dan di kesempatan ini dia langsung nyatain perasaannya itu ke aku. Aku menolaknya lembut-lembut sekali, karena memang ga ada perasaan lebih dari temen. Udah deh Aldi terima keputusan aku dan kita berteman seperti biasa.

Di saat suasana pertemanan antara aku dan Aldi sudah biasa saja, ga ada rasa canggung lagi, Aldi tiba-tiba menyatakan perasaan lagi. Dan yang aku kurang suka disini adalah caranya yang terkesan “ngotot”. Lalu dia minta maaf, dan kita kembali menjadi teman yang haha-hihi lagi. Eh tapi ternyata dia masih mengulangi lagi. Trus dia minta maaf lagi. Dan begitu terus siklusnya. Aku capek menanggapinya, dan kupikir lebih baik aku menghilang. Ok, aku menghilang. Cling..

Tapi ya namanya juga satu fakultas, hampir tiap hari ketemu, dan sempet satu UKM juga, jadi ya ketemu lagi. Akhirnya, kami mencoba untuk berteman dengan baik-baik saja meskipun ternyata Aldi hanya (berpura-pura) baik-baik aja.


Yang ketiga,

Aku mengikuti sebuah kepanitiaan kepemimpinan yang cukup besar di kampusku. Suatu hari aku rapat divisi untuk yang pertama kali. Di antara sekitar sembilan orang yang datang, ada satu orang laki-laki yang bikin aku "ngelirik" karena dia mirip seseorang di masa lalu. Eh, tapi malah laki-laki di sebelahnya, sebut saja Raja, yang "ngelirik" ke aku. Lalu, karena kami satu kegiatan, akhirnya jadi sering komunikasi. Dan kebetulan kami punya minat yang sama, dan juga cukup sefrekuensi, jadi cocok buat berteman akrab. Kata temen-temenku, Raja suka sama aku. Ya aku juga suka sih soalnya lucu hihi.

Tiga tahun berteman dekat banget sama Raja. Berantem, debat, ngambek, ketawa, nangis, happy, banyak sekali yang kami lalui. Dari awal ketemu, Raja adalah sosok laki-laki yang poloooooos banget. Tapi satu hal yang aku salut banget dari Raja sampai saat ini adalah, dia seorang pembelajar yang ga pernah berhenti berproses. Proud of Raja so much. 


Yang keempat,

Yang kelima,

Yang keenam,

dan lainnya lagi masih ada, tapi 3 orang di atas adalah yang melahirkan banyak cerita. Dan menariknya, ketiga orang di atas saling tau satu sama lain kalau mereka lagi (semacam) "usaha" ngedeketin perempuan yang sama. Lucu.


Tambahan 03/10/2021:

Semoga kalian semua selalu diselimuti kebaikan, ya! Senang sekali baca ulang tulisan lama begini😊


Terpaksa Ikut Lomba Menulis Puisi



Saya mulai suka menulis cerita sejak SD. Saya suka cerpen, cerbung, novel, tapi saya nggak suka puisi. 

Waktu SMP kelas 2, guru B.Indo saya masuk kelas dan nanya, "di sini ada yg suka nulis puisi? Nanti diikutkan lomba FLS2N mewakili sekolah di kabupaten."

Saya diem aja, karena emang pendiem, tp temen-temen sekelas heboh banget, "Mawar, Bu!! Iya Bu, Mawar suka nulis! Iya Bu, nih ada cerpennya Bu *ngobrak-ngabrik laci nyari kertas-kertas cerpen saya"
rasanya kesel gimana gitu, karena saya emang nggak suka nulis puisi, kalau lombanya nulis cerpen ya oke lah, tapi ini temen-temen saya kok pada sotoy banget ya.

Akhirnya, saya ikut lomba menulis puisi tingkat kabupaten.

Thursday, October 3, 2019

Sewindu, Tuan Boleh Pulang

Sudah larut, Tuan boleh pulang
Bawa kembali matamu,
aku tak lagi pinjam

Sudah gelap, Tuan boleh pamit
Bawa kembali bibirmu,
aku tak akan mengutip

Sewindu, Tuan bersemayam
Maaf aku sudah lancang
Memberi ruang,
tetapi tak pernah bilang

Jikalau pandai aku bertutur
Tuan pasti pulang bawa pesan
Sayang aku bukan hanya pendiam,
tetapi juga pecundang

Sewindu, Tuan
Sudah selesai
Silakan pulang

Jikalau berkenan,
mampirlah ke belakang
pernah ada puisi, isak dan bahak yang diramu dari mata Tuan

Tapi, jangan Tuan minta pesan
Aku tak akan bilang,
tak mau mengulang

Sewindu, Tuan
Sudah usai
Silakan pulang
Sudah damai

Lampung, 4 Oktober 2019.
Sudah benar-benar selesai.




This entry was posted in

Sunday, September 29, 2019

2 am poem

It’s 2 a.m
I should be sleeping
but I’m still staring
at the empty ceiling
It’s 2 a.m
I should be resting
but I’m still thinking
of two broken souls
hugged yesterday morning
It’s 2 a.m
I should be dreaming
but I’m still guessing
what is the most addictive
drug that we’ve been consuming
in a whole yesterday morning
It’s 2 a.m
I’m still pretending
the two broken souls
will be fine of leaving
tomorrow morning
This entry was posted in

Thursday, July 4, 2019

Gege, motivasi buat hidup besok


Bandung, 3 Juli 2019


Hari ini berantakan. Sebenernya dari beberapa hari yang lalu juga udah berantakan sih, tapi hari ini berantakan banget. Kacau.

Balik lagi ke dokter setelah dua tahun menghilang gitu aja. Begitu masuk ruangan dokter, dokter langsung bilang, “Eh kamu, kemana aja selama ini?” Dan saya cuma cengar-cengir. Kayak orang lagi PDKT yang tiba-tiba ngilang trus tau-tau dateng lagi karena ada maunya, hehe.

Hari ini makin berantakan. Udah keluar dari ruang dokter, malah ga jadi nebus obat karena suatu hal yang bakal bikin masalah lagi. Udah kerjaan berantakan, attitude  terlanjur dicap buruk, udah ga ngerti lagi harus mulai dari mana selain meng-clear-kan dulu semua kegiatan dan mulai dari nol.
Nangis sesenggukan di masjid al islam, di toilet, di jalan buah batu, di mushola mcd buah batu, pokoknya nangis-nangis doang hidup aing. Ga ada tujuan besok mau apa. Ga ada motivasi untuk bangun tidur besok pagi.

Jam 10 malem, saya beli es krim di mcd buah batu. Terus liat ada anak kecil laki-laki sekitar umur 10 tahun masih jualan tisu depan mcd. Iseng nyamperin lalu ngobrol-ngobrol di parkiran. Saya tanya dia udah makan nasi apa belum, katanya belum dan seharian ini puasa. Saya tawarin deh nasi ayam dan dia minta yang ada hadiahnya alias happy meal. Uang di dompet tinggal 70an ribu. Rencana uang segitu buat makan dan transpor sampai hari Minggu, tapi ya udah lah saya pake buat beli happy meal, toh anak itu lebih butuh. Masalah saya besok mau makan apa, terserah aja Allah mau ngasihnya apa.

Setelah saya beliin happy meal, kita ngobrol-ngobrol lagi sambil nongkrong di parkiran mobil. Bener-bener di parkiran gitu, karena kursi di luar penuh, dan si bocah ga mau diajak duduk di dalem, malu.

Ternyata, anak kecil, sebutlah namanya Gege (nama samaran) ini udah putus sekolah sejak kelas 1 SD. Dia diusir bapaknya dari rumah karena kalau jualan tisu suka ga abis dagangannya (ga mencapai target jualan harian). Setiap hari dia tidur di deket pangkalan ojek, bareng sama aban-abang grab/gojek. Bangun tidur jam 10 atau 12 siang, kadang kalau siang dia main di masjid atau mushola, trus nonton upin-ipin di warung orang, kalau sore sampai malem jualan tisu.

Demi menjaga keamanan diri saya juga, saya tanya si Gege ini punya “bos” atau ga, dan dia bilang nggak. Jadi dia jualan tisu murni untuk menghidupi dirinya sendiri. Alhamdulillah saya bebas dari preman wkwk

Well, anak kecil, 10 tahun, menghidup dirinya sendiri. Boro-boro mau nanya cita-citanya apa, nanya kapan dia mau pulang ke rumah aja berat banget rasanya. Bahkan bulan puasa dan lebaran kemaren, disaat saya enak-enakan kumpul keluarga di rumah, makan opor, ketupat, rendang, nastar, dll, si Gege tetep ga pulang ke rumah, tetep jualan dan luntang-lantung di jalanan, ga punya siapa-siapa. Saya langsung ngomong sama Allah dalam hati, “Ah, pasti Allah sengaja ya mempertemukan saya sama Gege. Biar saya tau definisi kesepian yang sesungguhnya itu apa. Trus biar saya malu sama masalah hidup saya yang ga seberapa ini.”

Setelah ngobrolin tentang hal pribadinya, saya tes dia untuk baca. Ternyata dia belum bisa baca, huruf alphabet pun masih suka salah sebut. Secara naluriah saya merasa bertanggungjawab buat ngajarin dia calistung, udah tahun segini, anak Indonesia minimal bisa baca tulis deh ya kan lalu saya tebar janji macam caleg2 gitu, “besok sore kita ketemu lagi ya di sini, nanti teteh ajarin kamu baca tulis, nanti teteh bawain buku Bobo.” Si Gege langsung seneeeng banget. Waktu saya mau pulang naik gojek, dia teriak “Dadaaah teteh!!!!” dengan sumringah.

Hahhhhh.....
Akhirnya, saya jadi punya tujuan hidup besok. Saya jadi punya motivasi buat bangun besok pagi. Motivasi hidup saya hari ini mungkin simpel banget, “saya pengen ngajarin Gege calistung, sampai dia bisa.” Tapi motivasi sesimpel itu bener-bener bikin saya kembali hidup.

Makasih Allah, selalu ngasih kesempatan, selalu ngasih pengingat (lewat apapun bentuknya yang ga pernah saya duga). Sejatuh-jatuhnya saya, sebodoh-bodohnya saya, sejahat-jahatnya saya sama Allah, Allah selalu ngingetin kalau saya masih punya harapan.


Saturday, June 8, 2019

Kau Jalanan Panjang




kau jalanan panjang
dengan kelok yang landai
mencapaimu aku mesti menempuh
liku yang meliuk hingga
curam yang menikam

lenganku masih merengkuh
bayangmu yang kau tinggal
di depan gerbang perpisahan
bertahun yang lampau

kau mungkin tak pandai
membaca mata yang berlinang
yang kau tinggal tanpa pesan
bertahun silam
aku juga mungkin tak paham
bertutur rasa lewat bibir, mata, atau karsa
hingga kau pergi saja
menyusur jalananmu dengan
liku, dengan kesepian, dengan
apa saja yang tertinggal

kau jalanan panjang
yang menjulur dari arteri
mengikat tubuhku hingga mau rubuh
sayang kau terlampau jauh
untuk kutempuh dengan raga yang tak utuh



Lampung, 08/06/19
This entry was posted in