Monday, September 10, 2018

Piket



Tepat pukul 04.45 pagi, alarm ponselku berdering. Memang aku sengaja memasang alarm pagi-pagi di hari libur seperti ini karena hari ini aku akan pergi ke sekolah untuk sekadar piket kelas.
            
Ohh, tiada yang hebat dan mempesonaa.. ketika kau lewat di hadapankuu.. biasa sajaa..aa..
            
Vidi Aldiano - Nuansa Bening, itulah lagu yang kupilih untuk memancing jasadku agar bisa bangun dari tidur yang selalu saja kelewat nyenyak ini. 
           
Aku bangun. Kulihat jam di ponselku, “Ah, masih jam lima  lalu aku kembali memejamkan mata dan memeluk erat guling yang terbungkus kain kasar, jadi seperti pocong. Di dalam tidurku, aku bermimpi bahwa aku sudah bangun. Tanpa mandi, cepat-cepat aku memakai seragam pramuka. Kemudian berlari kalang-kabut kesana-kemari seperti orang kebakaran jenggot keramatnya. Di dekat rak sepatu, aku sibuk mencari sepatuku sambil komat-kamit sendiri. Sepatuku hilang! Oh, Neptunus, di mana terakhir kali aku menaruh sepatu?? Aku tak berhenti mencari, mencari, dan terus mencari hingga sela-sela kecil lemari kubongkari semua. Orang-orang seluruh penghuni isi rumahku pun ikut berpartisipasi atas kesibukan ini. Kulirik jam dinding yang tergantung di atas rak sepatu itu. Tepat pukul 08.00.
            Aih, kan, udah jam delapan! Udah terlambat ini! Gak jadi sekolah, lah!” kata-kataku menghentak dengan nada marah.
            
Aku kesal dengan orang-orang rumah. Tapi malah aku yang dimarahi habis-habisan oleh ibuku karena pagi-pagi sudah menyusahkan banyak orang di rumah. Lalu aku masuk ke dalam kamar dan tidak jadi berangkat ke sekolah. Aku berbaring kesal di atas kasur. Melepas kaos kaki dan melemparnya ke meja belajar. Kubenamkan wajahku di bawah selimut, kupejamkan mata erat-erat untuk menahan air mata kekesalanku. Beberapa detik setelah itu, aku bangun! Aku benar-benar bangun dari tidur dan mimpi pendekku tadi. Aku merasa aneh. Nafasku terengah-engah, emosiku masih menukik, mimpi tadi rasanya seperti nyata kualami. Cepat-cepat aku menuju kamar mandi. Ketika aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, aku keluar lagi sekedar untuk menengok rak sepatu.
Alhamdulillah, sepatunya masih ada,” gumamku sembari tersenyum kecil.

Selesai mandi, aku terburu-buru berangkat sekolah hingga kalang kabut tak karuan, persis seperti di dalam mimpi, tapi bedanya, sepatuku tak hilang, aku terburu hanya karena mengejar waktu.
          
Ibuku yang sedang heran melihatku terburu-buru bertanya, “Loh? Kok sekolah? Ini kan libur?”
Aku menjawab sambil mengenakan kaos kaki, “Aturan baru, walau libur tetep harus piket kelas.”
Ibuku bertanya lagi, “Oo... lah ga sarapan dulu?”
Kujawab sambil mengenakan sepatu, “Ga usah, cuma bentar kok!”
Tiba-tiba adikku berteriak ingin ikut, “Ikuuut! Aban mau ikuuuttt!!!” mulutnya sengaja di maju-majukan menyamakan pipinya yang lebih menonjol.
“Ikuuut!!” ia terus menjerit tetapi malah tetap diam di tempat.
“Cepet pakai sendalnya! Cepet!!!” bentakku galak.

 Sampai di sekolah, aku masuk lewat gerbang depan. Kutelusuri lorong tempat parkir guru.
            Sreekk, sreekk, sreekkk….
Hanya terdengar suara langkahan kakiku saja. Kutengok sekeliling halaman sekolah. Sunyi senyap. Tak ada aktivitas apa pun.
            Sssssshhhhh……..
Suara hempasan dedaunan yang saling bergesekan menyambutku yang tercengang sendirian di ujung lapangan basket sambil melongo. Kuambil handphone di saku rok pramukaku. Kutulis pesan pendek untuk temanku, Na, kamu berangkat ga? Saya udah di sekolah, tp kok ga ada satu pun manusia sih? Kayak kuburan ...
            Begitu isi pesan singkatku. Dan segera kukirim ke kawanku: Nana Maulana.
           
Seketika kulihat di layar ponselku. Pengiriman pesan telah gagal. Aih, sial! Ternyata pulsaku habis! Aku berjalan kembali keluar sekolah. Ada seorang anak kelas tujuh, entah siapa namanya, ingin sekali rasanya aku bertanya, tapi anak itu terlanjur buru-buru pulang seperti habis melihat setan perempuan yang gosip-gosipnya setan itu bernama Yuni, dia ada di sekolahku. Ah, tentang itu aku tak percaya. Hanya gosip.

Apa boleh buat lagi, akhirnya aku kembali pulang ke rumah dengan rasa kesal. Di jalan, aku terus menggerutu, “ Ih, pada ke mana sih anak-anaknya?! Rese banget! Bodo amat lah kalau nanti dapet poin gara-gara ga piket!”

Di rumah.

Aku menunggu pukul sembilan. Lebih tepatnya lagi menunggu konter dekat rumahku buka. Lalu aku membeli pulsa dan mengirim lagi pesan singkat ke Nana.
            Na, kamu berangkat ga, tah? Tadi aku udah ke sekolah, tp ga ada satu pun manusia. Hening. Kayak kuburan…
            Terkirim. Dan segera di balas oleh kawanku.
            Berangkat. Kamu berangkat jam berapa?
            Kubalas:
            Jam 7 lewat dikit banget. Emang harusnya berangkat jam berapa?
            Terkirim, dan ia segera membalas lagi.
            Jam 9 baru mulai rame.
            Kubalas lagi:
            Aih, kamu ga bilang loh kalau berangkat jam segitu! Terus, tadi di absen kah sama Pak Kuat?
            Nana membalas lagi.
            Iya. Yang ga dateng dapet poin.
           
Tak kubalas lagi. Ah, biarlah. Tak terlalu penting piket di hari libur itu.


Ditulis pada 4 Juni 2011.

0 comments:

Post a Comment