Tepat pukul 04.45 pagi, alarm ponselku berdering. Memang aku sengaja memasang alarm pagi-pagi di hari libur seperti ini karena hari ini aku akan pergi ke sekolah untuk sekadar piket kelas.
Ohh, tiada yang hebat dan mempesonaa..
ketika kau lewat di hadapankuu.. biasa sajaa..aa..
Vidi Aldiano - Nuansa Bening,
itulah lagu yang kupilih untuk memancing jasadku agar bisa bangun dari tidur
yang selalu saja kelewat nyenyak ini.
Aku bangun. Kulihat
jam di ponselku, “Ah, masih jam lima ” lalu aku kembali memejamkan mata dan memeluk
erat guling yang terbungkus kain kasar, jadi seperti pocong. Di dalam tidurku,
aku bermimpi bahwa aku sudah bangun. Tanpa mandi, cepat-cepat aku memakai
seragam pramuka. Kemudian berlari kalang-kabut kesana-kemari seperti orang
kebakaran jenggot keramatnya. Di dekat rak sepatu, aku sibuk mencari sepatuku
sambil komat-kamit sendiri. Sepatuku hilang! Oh, Neptunus, di mana terakhir
kali aku menaruh sepatu?? Aku tak berhenti mencari, mencari, dan terus mencari
hingga sela-sela kecil lemari kubongkari semua. Orang-orang seluruh penghuni isi
rumahku pun ikut berpartisipasi atas kesibukan ini. Kulirik jam dinding yang
tergantung di atas rak sepatu itu. Tepat pukul 08.00.
“Aih, kan , udah jam delapan!
Udah terlambat ini! Gak jadi sekolah, lah!” kata-kataku menghentak dengan nada
marah.
Aku kesal dengan
orang-orang rumah. Tapi malah aku yang dimarahi habis-habisan oleh ibuku
karena pagi-pagi sudah menyusahkan banyak orang di rumah. Lalu aku masuk ke
dalam kamar dan tidak jadi berangkat ke sekolah. Aku berbaring kesal di atas
kasur. Melepas kaos kaki dan melemparnya ke meja belajar. Kubenamkan wajahku di
bawah selimut, kupejamkan mata erat-erat untuk menahan air mata kekesalanku. Beberapa detik setelah itu, aku bangun! Aku benar-benar bangun dari tidur dan
mimpi pendekku tadi. Aku merasa aneh. Nafasku terengah-engah, emosiku masih
menukik, mimpi tadi rasanya seperti nyata kualami. Cepat-cepat aku menuju kamar
mandi. Ketika aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, aku keluar lagi
sekedar untuk menengok rak sepatu.
“Alhamdulillah,
sepatunya masih ada,” gumamku sembari tersenyum kecil.
Selesai mandi, aku
terburu-buru berangkat sekolah hingga kalang kabut tak karuan, persis seperti
di dalam mimpi, tapi bedanya, sepatuku tak hilang, aku terburu hanya karena
mengejar waktu.
Ibuku yang sedang
heran melihatku terburu-buru bertanya, “Loh? Kok sekolah? Ini kan libur?”
Aku menjawab sambil
mengenakan kaos kaki, “Aturan baru, walau libur tetep harus piket kelas.”
Ibuku bertanya lagi, “Oo... lah ga sarapan
dulu?”
Kujawab sambil mengenakan sepatu, “Ga usah, cuma bentar kok!”
Kujawab sambil mengenakan sepatu, “Ga usah, cuma bentar kok!”
Tiba-tiba adikku
berteriak ingin ikut, “Ikuuut! Aban mau ikuuuttt!!!” mulutnya sengaja di
maju-majukan menyamakan pipinya yang lebih menonjol.
“Ikuuut!!” ia terus
menjerit tetapi malah tetap diam di tempat.
“Cepet pakai sendalnya!
Cepet!!!” bentakku galak.
Sampai di sekolah,
aku masuk lewat gerbang depan. Kutelusuri lorong tempat parkir guru.
Sreekk, sreekk,
sreekkk….
Hanya terdengar
suara langkahan kakiku saja. Kutengok sekeliling
halaman sekolah. Sunyi senyap. Tak ada aktivitas apa pun.
Sssssshhhhh……..
Suara hempasan
dedaunan yang saling bergesekan menyambutku yang tercengang sendirian di ujung
lapangan basket sambil melongo. Kuambil handphone di saku rok pramukaku. Kutulis
pesan pendek untuk temanku, Na, kamu berangkat ga? Saya
udah di sekolah, tp kok ga ada satu pun manusia sih? Kayak kuburan ...
Begitu isi pesan singkatku.
Dan segera kukirim ke kawanku: Nana Maulana.
Seketika kulihat di
layar ponselku. Pengiriman pesan telah gagal. Aih, sial! Ternyata pulsaku
habis! Aku berjalan kembali keluar sekolah. Ada seorang anak kelas tujuh, entah siapa
namanya, ingin sekali rasanya aku bertanya, tapi anak itu terlanjur buru-buru pulang seperti
habis melihat setan perempuan yang gosip-gosipnya setan itu bernama Yuni, dia
ada di sekolahku. Ah, tentang itu aku tak percaya. Hanya gosip.
Apa boleh buat lagi,
akhirnya aku kembali pulang ke rumah dengan rasa kesal. Di jalan, aku terus menggerutu,
“ Ih, pada ke mana sih anak-anaknya?! Rese banget! Bodo amat lah kalau nanti
dapet poin gara-gara ga piket!”
Di rumah.
Aku menunggu pukul
sembilan. Lebih tepatnya lagi menunggu konter dekat rumahku buka. Lalu aku membeli
pulsa dan mengirim lagi pesan singkat ke Nana.
Na, kamu berangkat ga, tah? Tadi aku udah ke
sekolah, tp ga ada satu pun manusia. Hening. Kayak kuburan…
Terkirim. Dan
segera di balas oleh kawanku.
Berangkat. Kamu berangkat jam berapa?
Kubalas:
Jam 7 lewat dikit banget. Emang harusnya berangkat jam berapa?
Terkirim, dan ia
segera membalas lagi.
Jam 9 baru mulai rame.
Kubalas lagi:
Aih, kamu ga bilang loh kalau berangkat jam
segitu! Terus, tadi di absen kah sama Pak
Kuat?
Nana membalas lagi.
Iya. Yang ga dateng dapet poin.
Tak kubalas lagi. Ah, biarlah. Tak terlalu penting piket
di hari libur itu.
Ditulis pada 4 Juni 2011.

0 comments:
Post a Comment